Skip to content

Biaya Ketika Mati

7 September 2010

Bismillahirrahmanirrahim..

Ambil saja yang baik dari tulisan ini, tinggalkan yang buruk.

Aku paling tak tahan pada orang sepuh, apalagi ketika beliau menangis. Dan aku baru melihatnya. Ia yang sudah sangat sepuh, tidak ingin merepoti keluarganya, maka ia masih saja mengerjakan pekerjaannya sekarang yaitu: menambal ban.

Aku selalu tak tahan, pada para sepuh yang bekerja begitu keras, untuk membiayai dirinya sendiri. Dan aku melihatnya, ketika ia membelikan seseorang sesuatu dengan uang hasil keringatnya. Untuk itu ia mendapat balasannya.

Ia menangis tersedu, lalu berkata, “Ya Allah, masih ada orang baik di dunia ini.” Ya, berkata demikian, tanpa menyadari ialah orangnya.  Lalu ia mulai mendoakan orang-orang yang memberinya uang, supaya diampuni dosanya, dibalas dengan yang lebih baik.

Lalu ia ditanya, “Untuk apa uangnya?”

“Untuk anak dan cucunya, untuk biaya ketika aku mati. Waktu suamiku meninggal, jutaan uang dikeluarkan. Aku tidak ingin memberatkan anak-anakku. Ketika aku mati, aku tidak ingin merepoti mereka. Uang ini akan kutabung. Biaya makam saja sekarang 500 ribu. Biaya mengurus untuk orang meninggal, mahal.”

Dan sungguh, aku lebih terpesona, pada mereka para sepuh yang bekerja keras untuk hidupnya, dibandingkan peminta-minta. Air mataku mengucur deras.  Bagaimana lagi? Nenek itu, memikirkan biaya untuk kematiannya sendiri…

Lalu ia tak henti mengucap, “Laa ilaaha ilallah, laa ilaaha ilallah…”

-dari sebuah acara di sebuah stasiun tv swasta-

si pencuri bintang

10 Komentar leave one →
  1. 8 September 2010 8:57 AM

    hidup perlu harga, dan mati pun perlu sebuah harga🙂
    karna itu kita mendapat sebuah HARGA MATI yang pasti!

    bangga dengan orang2 sepuh yang masih berjuang untuk hidup dan matinya tanpa harus mengemis.

    • blodstone permalink
      8 September 2010 12:58 PM

      betul, hebat sekali, bahkan terpikir untuk menyiapkan biaya kematiannya sendiri…

  2. 8 September 2010 9:42 AM

    ^_^
    subhanallah … saluuuttt tuk nenek …

    • blodstone permalink
      8 September 2010 12:58 PM

      bangeeettt >,< hwhwhw

  3. 8 September 2010 2:38 PM

    Ya Allah… seharusnya ini jadi pelajaran buat semuanya ya….
    kenapa yg tua saja masih mau bekerja keras bahkan mereka menyiapkan rupiah untuk menghadapi kematian mereka sendiri,,,
    sedangkan yg muda” malah hura”… seakan mereka nggak sadar klo suatu saat mereka juga bakalan mati…

    jiah ngomong apa QK ini..😆

    HIDUP!!! ^_^

    • blodstone permalink
      8 September 2010 8:58 PM

      iyaaa… bahkan dalam kondisi kita yang lebih baik..😀

  4. 8 September 2010 8:05 PM

    Selamat malam, Sahabat BURUNG HANTU …
    Semoga limpahan rahmat Tuhan selalu tercurah dalam kehidupan Sahabat semua …

    Sehubungan dengan Blog Competition Beswan Djarum yg sedang Denuzz ikuti, Denuzz mohon kesedian Sahabat meluangkan sedikit waktu untuk bisa memberikan komentar di 3 artikel ini:

    http://blog.beswandjarum.com/denus/2010/09/08/eksperimen-mematikan-bersama-djarum-beasiswa-plus/

    http://blog.beswandjarum.com/denus/2010/09/08/uh-untuk-apa-jadi-beswan-djarum/

    http://blog.beswandjarum.com/denus/2010/09/08/beswan-di-tengah-belantara-fana/

    Komentar menjadi poin penilaian yang cukup besar dalam kompetisi …

    Selain itu Denuzz harap Sahabat berkenan untuk memberikan vote di
    http://www.beswandjarum.com/blogcompetition/
    Tinggal klik “SUKA” pada blog atas nama DENUS HERUWANDA …

    Denuzz ucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kesedian Sahabat narablog …

    Be a happy blogger! …
    Salam BURUNG HANTU …

  5. 9 September 2010 11:44 AM

    apakah anak-anaknya sudah tidak peduli dengan ibunya, sampai ada biaya untuk mengurus orang yang meninggal. kemana saja anaknya

    • blodstone permalink
      9 September 2010 3:06 PM

      sebagai pembelajaran kita para anak…

      tapi si nenek ini memang sepertinya enggak merepotkan anak-anaknya… ckck, mulia, mulia.. kebanyakan ibu memang begitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: